Serangan Jantung Saat Olahraga: Kenali Tandanya dari Kasus Asisten Pelatih Arema FC
Serangan jantung yang terjadi saat berolahraga dapat muncul dengan gejala tertentu, dan kasus duka Asisten Pelatih Arema FC saat laga amal menjadi pengingat pentingnya mengenali tanda-tanda tersebut
Kabar duka datang dari dunia sepak bola Indonesia setelah Asisten Pelatih Arema FC, Kuncoro, meninggal dunia akibat serangan jantung saat mengikuti laga amal peringatan 100 Tahun Stadion Gajayana di Malang, Jawa Timur. Pria berusia 52 tahun itu sempat kolaps di lapangan dan mendapatkan bantuan medis termasuk resusitasi jantung paru (RJP), namun nyawanya tidak tertolong.
Spesialis jantung, dr Vito Damay, menjelaskan bahwa serangan jantung saat olahraga bisa memberikan sinyal lebih awal yang sering terabaikan karena menyerupai kelelahan biasa. Satu gejala paling umum adalah rasa tidak nyaman atau nyeri di dada, sering digambarkan seperti tekanan, remasan berat, atau sensasi panas yang mendadak muncul saat aktivitas fisik berlangsung.
Selain itu, penderita sering merasakan sesak napas yang tidak biasa untuk intensitas olahraga tersebut, yang tidak hilang meskipun telah berhenti sejenak. Gejala lain yang juga perlu diwaspadai termasuk pusing, mual, keringat dingin, atau nyeri yang menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung.
Menurut beberapa pakar kesehatan, tanda-tanda ini sebenarnya selaras dengan sejumlah rekomendasi medis global tentang peringatan serangan jantung saat aktivitas fisik, seperti sesak napas yang melebihi batas normal, kelelahan ekstrem, atau gangguan irama jantung. Jika kombinasi gejala terlihat selama olahraga, itu bisa menjadi indikasi bahwa jantung sedang mengalami tekanan berlebihan dan membutuhkan pemeriksaan medis segera.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terganggu, sering kali karena penyempitan pembuluh darah akibat plak atau faktor risiko lainnya. Saat berolahraga, kebutuhan oksigen oleh jantung meningkat, sehingga jika terdapat sumbatan yang signifikan, risiko kolaps secara tiba-tiba juga meningkat, bahkan pada individu yang tampak sehat atau rutin berolahraga.
Lebih lanjut, dokter menekankan bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu muncul pada semua orang, dan sebagian orang bisa saja merasakan gejala ringan yang mudah disalahartikan sebagai kelelahan sementara atau respons tubuh terhadap tekanan fisik. Dalam beberapa kasus, serangan jantung bahkan terjadi tanpa peringatan gejala yang jelas sama sekali.
Selain gejala yang tampak saat olahraga, sangat penting pula bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung untuk lebih berhati-hari. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu mengidentifikasi risiko yang tidak disadari sebelum memulai aktivitas fisik berat.
Kasus duka yang dialami Kuncoro tidak hanya menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar Arema FC dan Aremania, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya mengetahui tanda-tanda serangan jantung saat olahraga serta tanggap terhadap sinyal tubuh sendiri. Dengan memahami gejala-gejala awal, menghentikan aktivitas, dan mencari pertolongan medis lebih cepat, banyak kasus fatal mungkin dapat dihindari.





